DSC_0039DSC_0058DSC_0094DSC_0288DSC_0403DSC_0140DSC_0144DSC_0145DSC_0184Hari tani… …Mungkin bagi sebagian besar orang masih asing dengan hari yang jatuh pada 24 september lalu. Tak banyak yang tahu bahwa hari tani merupakan sebuah permulaan bagi seluruh petani mendapatkan sebuah pengakuan. Tanggal 24 September merupakan tanggal ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 mengenai Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) oleh bung karno. Sejalan dengan itu, dewasa ini telah banyak kalangan, khususnya mahasiswa, yang tersadar akan pentingya peran petani dalam menunjang kebutuhan pangan.Bergulirnya issue mengenai “Konspirasi Pangan Dunia” , agaknya menyadarkan sebagian dari kita untuk kembali lagi kepada yang hakiki, pangan lokal.

Tak melulu soal pangan, hari tani menjadi pengingat bagi sebagian umat, untuk lebih tergugah oleh kondisi pertanian Indonesia yang semakin lama semakin “terjebak” dimana sebagian dari para praktisi pertanian (baca:petani) tengah terlilit oleh tali- tali sophisticated- means based dimana segala hal telah mengalami modernisasi, tak terkecuali segala aspek di bidang pangan dan pertanian. Banyak di antara kita menginginkan keseimbangan pada setiap aspek kehidupan kita. Atau bahkan, ingin ketika idealisme kita memang benar- benar menjadi sebuah kenyataan. Misalnya saja, pangan yang enak, yang berawal dari proses yang mudah. Idealnya memang begitu.

Namun, siapa yang tak tahu bahwa itu semua hampir tak mungkin didapatkan di sini, di negeri kita ini. Pengelolaan sistem industri pertanian dari pra hingga pasca panen yang cenderung “belibet” dan “riweuh” dan hasilnya pun kurang begitu memuaskan. Lalu makanan enak yang selama ini kita makan?. Impor. Semua tahu itu.

Ada kalanya, kita diminta oleh alam, untuk menyisihkan waktu kita. Menoleh kembali ke belakang, melihat seberapa parah kondisi ibu pertiwi. Melihat saja? Bagiku, iya. Syukur- syukur bisa memberikan “sesuatu” untuk negeri ini. Bahkan sejatinya, “para birokrat kampus” pun tak banyak yang bisa menyisihkan waktu mereka untuk melihat kembali. Sebuah momen yang sebenarnya lahir di era mereka. Momen hari tani.

24 dan 25 September 2014 lalu, menjadi sebuah pengingat bagi kita semua untuk terus bisa menoleh kebelakang. Sebuah pesta kecil di slatsar FTP UGM yang dihadiri lebih dari 500 partisipan. Mungkin cukup mengingatkan 500 gundul agar selalu mengingat momen ini. Agar ketika kita sukses nanti, kita bisa kembali, memberikan apapun untuk kemajuan pangan dan pertanian bangsa ini. Momen pesta kecil yang tak kan pernah bisa terkait langsung dengan pangan dan pertanian, dimana sebagian dari kita mengenakan pakaian hitam,  menempelkan foto di atas kain jarik batik kemudian memamerkannya di depan khalayak, dan sebagian lainnya berkutat dengan jarum dan bermain- main dengan darah mereka. Hanya itu? Iya.

Sebuah pengingat, itulah yang ingin kita berikan. Sesuatu yang biasa saja pun, sempat membuat sebagian dari kita teringat kembali. Bahkan sebagian dari kita mungkin “baru tahu” soal momen ini. Feedback berupa perubahan besar, yang turut membuat kondisi pertanian dan pangan kita semakin maju,  tentu merupakan sebuah harapan bagi kami. Berawal dari mengingat, kita bisa– Salam PERMATETA Bersahabat! (Rd.)

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *