Sepenggal tagline yang bergema di sebuah villa bernama villa sinta di kawasan Bedugul, Tabanan, Bali yang saat itu menjadi sebuah “Musik Iringan” bagi para peserta dan panitia Kongres IMATETANI ke VIII, sebuah perjalanan panjang yang baru bagi IMATETANI, mengingat seorang kapten baru tengah di-inagurasi didepan ratusan pasang mata yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia. IMATETANI… Siapa sih yang nggak kenal sama organisasi yang satu ini? Bahkan para GAMADA 2013 pun agaknya sempat mencium bau dari organisasi keren satu ini.

IMATETANI terdiri atas komponen- komponen kepengurusan yang terstruktur dan berlandaskan GBHK dan AD dan ART yang disepakati dalam kongres nasional tahunan. Koordinasi kinerja IMATETANI berada secara resmi di bawah Ketua Umum yang juga membawahi Sekretaris umum , Bendahara umum, dan Badan Pengurus Nasional. Badan Pengurus Nasional sendiri terdiri atas 4 bidang yang masing- masing dibawahi oleh seorang kepala bidang dan beberapa staff bidang yang bersinergi dalam proses realisasi program kerja. Selain bidang, terdapat komponen lain dari Badan Pengurus Nasional, yakni berbagai Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian di seluruh Indonesia yang dipisah menjadi 7 rayon berdasarkan lokasnya, serta dibawahi oleh ketua rayon.

Komponen- komponen tersebut di atas merupakan apparatus yang bersinergi menjalankan amanah para anggota non-pengurus yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Kongres IMATETANI Ke-VIII sendiri dilaksanakan di Tabanan, Bali pada tanggal 13 hingga 16 maret 2014 dengan mengusung tema, “Peran Agrowisata Pertanian Dalam Upaya Melestarikan Sistem Irigasi Subak Berbasis Kearifan Lokal”. Tema tersebut memang terbilang cukup khusus, mengingat subak hanya terdapat di kawasan Bali. Subak sendiri merupakan sekumpulan petani yang mengelola system irigasi yang terdapat di sebuah kawasan sawah tertentu. Yang membedakan system irigasi subak dengan system lainnya adalah bahwa subak memiliki syarat, yakni harus terdapat pura. Pendalaman materi mengenai subak sendiri telah dijabarkan dalam dua jenis seminar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam dengan dua pemateri tentunya. Adapun rutinitas yang paling dinanti dari kongres IMATETANI sendiri adalah pada saat prosesi pemilihan Ketua Umum yang baru.

Terdapat tiga kandidat utama calon ketua umum IMATETANI yakni Darianto Putr Tambak dari INSTIPER Yogyakarta, kemudian Compyang Gede Waisnawa dari UGM, serta Rudyanto Putra Simanjuntak dari UNPAD. Sempat terjadi perdebatan, mengingat terdapat benturan pasal antara kandidat yang bersedia, dengan minimum requirements yang ditentukan. Hal tersebut sempat membentur Darianto dan Compyang, yang mana keduanya masih menjabat sebagai Pengurus Harian di masing- masing HMJ. Namun demikian, akhirnya keduanya mengajukan cuti kepada masing- masing ketua HMJ, sehingga prosesipun dapat dilanjutkan kembali. Patut diakui, ketiganya memang syarat akan khasnya karisma kepemimpinan, sehingga sempat membuat cenat-cenut para peserta kongres dalam prosesi penentuan ketua melalui musyawarah. Setelah dirasa cukup buntu, akhirnya keputusan pun diambil secara voting dari tiap- tiap universitas.

Namun demikian, masih terdapat beberapa universitas yang abstain, sehingga masih dirasa kurang begitu afdol dalam penentuan ketua kali ini. Setelah hasil diperoleh, akhirnya dilaksanakanlah prosesi penobatan atau inagurasi kepada ketua baru IMATETANI, yakni Compyang Gede Waisnawa dari UGM. –Wah bangga deh :3 — Dengan dibacakannya considerance dari presidium, maka Compyang pun resmi hengkang dari PERMATETA untuk selanjutnya berkontribusi secara lebih total di IMATETANI – Campaign Tagline : Salam kepompong, Remember?– . [Rasyid]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *